Pemerintah, dalam hal ini TNI Angkatan
Udara berencana membeli helikopter Agusta Westland AW101 Merlin buatan Italia
sebagai helikopter kepresidenan RI. Dengan helikopter itu diharapkan dapat
membantu aktivitas Presiden yang dikenal gemar blusukan ke berbagai daerah,
menemui rakyat, melihat dan menyelesaikan permasalahan dari dekat. Helikopter
seharga 55 juta US Dolar itu diharapkan dapat mengcover mobilitas Presiden yang
cukup tinggi. Sebelumnya helikopter Super Puma yang mengantar perjalanan dinas
Presiden RI selama kurang lebih 13 tahunan.
Rencana di atas menuai pro kontra di
tengah masyarakat. Bagi yang pro, mereka menganggap sebagai sesuatu yang wajar
menimbang tingginya mobilitas kegiatan Presiden bila Pemerintah membeli
helikopter baru, yang lebih canggih tentunya. Hanya permasalahanya, kenapa
membeli dari luar? Kenapa tidak menggunakan produk dalam negeri? Bukankah kita
memiliki PT Dirgantara Indonesia?
Rencana pembelian helikopter tersebut
disayangkan oleh politisi Partai PDI Perjuangan Tubagus Hasanuddin. Hasanuddin
berdalih bahwa PT Dirgantara Indonesia mampu membuat helikopter yang memiliki
spesifikasi tak kalah hebatnya dari helikopter yang akan dibeli pemerintah,
Agusta Westland AW101 buatan Italia. Anggota Komisi I DPR RI itu mengungkapkan,
helikopter jenis Super Puma yang digunakan oleh presiden selama ini dibuat
tahun 2000 dan dipaikai sejak tahun 2002. Dengan demikian, sudah dipakai selama
13 tahun. Terbukti tidak pernah ada masalah, dapat melayani kebutuhan
perjalanan dinas presiden. Selain itu produk dalam negeri lebih murah. Super
Puma buatan PT Dirgantara Indonesia hanya dihargai 35 Juta US Dolar. Masih menurut Tubagus Hasanuddin, PT Dirgantara
Indonesia pun bisa melengkapi Super Puma seperti Agusta Westland AW101, tinggal
menambah saja komponen foward looking
infra red (FLIR) dan chaff anf flare, yaitu alat proteksi/anti peluru. Kemudian
ditambah infared jammer dan laser warning. Semua alat itu diperkirakan memakan
biaya 5 juta dollar AS. Dengan demikian hanya 40 juta dollar AS, PT Dirgantara
Indonesia bisa menghemat anggaran negara sebesar 15 juta dollar AS.
Sementara
itu, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna menjelaskan alasan pihaknya membeli
helikopter AgustaWestland AW101 Merlin buatan Italia sebagai helikopter
kepresidenan RI. Menurutnya, pembelian helikopter VIP untuk kepresidenan itu
satu paket dengan pengadaan atau pembelian helikopter angkut berat baru TNI AU
yang berkapasitas minimal empat ton. Rencananya, TNI AU akan membeli enam
helikopter angkut berat dan tiga helikopter VIP. TNI memerlukan helikopter
AW101 dengan alasan menyamakan perawatan dan pemeliharaan dengan skuadron
helikopter yang lain, yang sebanyak enam unit itu. Demikian ditegaskan Marsekal
TNI Agus Supriatna di Landasan Udara
Halim Perdanakusuma, Kamis (26/11). Namun, Agus tidak menjelaskan alasan TNI AU
lebih memilih AW101 dibandingkan helikopter lainnya. Dia hanya menjelaskan,
awalnya TNI AU hanya mendapat izin membeli dua helikopter VIP sesuai pagu
anggaran. Namun, pihak Mabes TNI
akhirnya memberikan izin untuk membeli satu helikopter VIP lagi dengan sumber
dana dari pinjaman luar negeri. (http://nasional.kompas.com/)
Sebaiknya dipertimbangkan
Pembelian
helikopter Agusta
Westland AW101 Merlin buatan Italia itu, menurut hemat saya, sebaiknya
dipertimbangkan kembali oleh Jokowi. Presiden Jokowi bisa menolak usulan
Angkatan Udara terkait pemberlian helikopter tersebut. Kenapa? Ada beberapa
alasan, sebenarnya apa yang direncanakan tersebut tidak sesuai, bertentangan
dengan cita-cita Jokowi sendiri. Bahkan lebih jauh, bertentangan dengan ucapan,
janji kampanye, dan program pemerintah.
Berikut beberapa alasanya, pertama, bertentangan
dengan Nawacita dan Trisaktinya Bung Karno. Dalam setiap kesempatan, saat
Pilpres lalu, Jokowi menjanjikan mewujudkan
kemandirian ekonomi bangsa. Jokowi sangat mengagumi konsep Trisakti Bung Karno yaitu berdaulat
secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam dalam
kebudayaan. Sekarang Jokowi melalui KSAU-nya lebih memilih
helikopter asing, buatan Itali,
dibandingkan produk PT Dirgantara Indonesia yang merupakan karya anak-anak
terbaik Indonesia. Pembelian helikopter
Agusta Westland (AW-101) menjadi bukti bahwa Jokowi dan jajaran pemerintahannya lebih
menyukai produk asing, dibandingkan produk dalam negeri, karya bangsa sendiri.
Ini sesuatu yang sangat disayangkan bila benar terjadi.
Kedua,
rencana pembelian helikopter Italia bertentangan dengan program pemerintahan
Jokowi-JK sendiri. Kementerian Men-PAN RB telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 541 Tahun 2015 tentang
Penggunaan Produk-produk Dalam Negeri. Surat Edaran Kementerian Aparatur Negara
itu menjadi acuan dan landasan daerah untuk
menghidupkan dan mengembangkan ekonomi daerah berbasis produk dalam negeri. Kemudian
menjadi aneh bila pemerrintah pusat tak mampu memberi contoh dalam hal ini.
Sungguh tidak bisa dipahami bila Jokowi
bersikukuh membeli produk asing
berbarengan dengan ajakan cinta produk dalam negeri. Masih segar dalam ingatan,
saat rupiah melemah atas dollar beberapa waktu lalu, Jokowi memerintahkan,
mengajak seluruh rakyat untuk membeli, mencintai produk dalam negeri.
Pertanyaanya, apa Jokowi sudah lupa?
Ketiga, menjadi aneh saat orang lain
menggunakan jasa PT Dirgantara Indonesia dengan membeli produknya sementara
kita membeli produk asing. Tercatat ada 32 kepala negara seperti Presiden
Singapura, Presiden Prancis, Presiden Brazil, Raja Spanyol, Kaisar Jepang, dan
Presiden Korea Selatan yang telah
menggunakan karya anak bangsa kita. Pertanyaanya, apa tidak aneh bila
presiden justru menggunakan produk
asing? Andai saja Jokowi mau memilih helikopter karya bangsa sendiri
tentu dampaknya sangat luar biasa bagi bisnis PT Dirgantara Indonesia juga kemandirian
bangsa. Jokowi bisa membusungkan dada dengan penuh bangga saat mendarat dengan
helikopter produk PT Dirgantara Indonesia. Negara lain akan melihat betapa
hebat dan mandirinya bangsa kita.
Keempat, sungguh disayangkan, saat PT Dirgantara Indonesia dengan semangat
di dada anak negeri, sedang susah payah memasarkan produk-produknya seperti
helikopter EC225, NAS332C1, dan EC725 Cougar, Presiden Jokowi melalui KSAU-nya
lebih memilih membeli helikopter Agusta Westland AW-101 milik Itali. Padahal
helikopter EC225, NAS332C1dan EC725 Cougar produk dalam negeri tak kalah
canggih dibanding AW-101 milik Itali.
Kelima,
bertentangan dengan ajakan hidup sederhana dan efesiensi dalam segala hal.
Kalau menggunakan helikopter dalam negeri bisa menghemat 15 juta dollar AS
seperti dijelaskan sebelumya kenapa
Jokowi lebih memilih helikopter buatan asing yang lebih mahal? Bukankah
selama ini beliau disimbolkan sebagai pemimpin yang sederhana?
Walhasil, hal-hal di atas layak
dipertimbangkan oleh Presiden Jokowi bila beliau masih ingin menggapai
cita-citanya mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa seperti yang dijelaskan
dalam Nawacitanya. Meluruskan ucapan dengan tindakan dan perbuatan satu-satunya
cara bagi Jokowi agar kepercayaan masyarakat tak hilang. Akhirnya, keputusan
ada di tangan Jokowi, rakyat kecil seperti saya hanya bisa menunggu pemimpin
yang dicintainya memberi teladan.
Wa Allahu Alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar