Selasa, 14 Maret 2017

Makna Lawatan Raja Salman


          Dua minggu belakangan, pemberitaan media dipenuhi dengan hiruk-pikuk membicarakan rencana kedatangan raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz al Saud. Pada 1 Maret lalu, raja kelahiran 31 Desember 1935 itu mendarat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Ada beberapa hal yang membuat kedatangan raja penjaga dua kota suci (Mekkah-Madintah) tersebut menjadi heboh. Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud akan berada di Indonesia selama sembilan hari, mulai 1 hingga 9 Maret 2017. Ini adalah kunjungan kepala negara Arab paling bersejarah bagi Indonesia karena kunjungan sebelumnya oleh Raja Faisal terjadi 46 tahun silam.
            Kemudian raja Salman akan membawa rombongan sangat spektakuler dalam sejarah kunjungan kenegaraan pemimpin dunia di Indonesia. Raja membawa rombongan super besar, berkisar 1500 orang.  Membawa 25 pangeran dan 10 menteri. Mereka diangkut dengan tujuh pesawat berkarakter wide body itu terdiri dari dua unit Boeing 777/2, 1 unit Boeing 747/1xp, 1 unit Boeing 7474/3, 1 unit Boeing 747/4, 1 unit Boeing 757, dan 1 unit pesawat Hercules.
            Dalam rencana kunjungan, raja Salman akan berlibur di Bali. Dipilihnya Bali tentu menyedot perhatian publik.  Seorang raja penguasa Haromain akan ke Bali,  tujuan wisata yang di tanah air sering dikesankan negatif oleh sejumlah umat Islam berpandangan cekak, kaum radikal. Selama lima hari rombongan akan menikmati segala keindahan di Bali, yakni tanggal 4 hingga 9 Maret. Sebelumnya (1-3 Maret) rombongan di Jakarta dijadwalkan akan melakukan berbagai pertemuan bilateral antara kedua negara.
          Kehebohan di atas menghadirkan berbagai isu tak berdasar. Beredar kabar, kedatangan Raja Salman terkait Pilkada DKI. Sang raja konon akan menemui Habib Riziq. Terkait isu ini, Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta sempat mengeluarkan bantahan tertulis. Bahwa kedatangan raja Salman merupakan kunjungan balasan atas undangan Presiden Jokowi. Adalagi, angka fantastik 300 milyar dolar AS, jumlah keseluruhan investasi yang akan digelontorkan. Nyatanya, seperti ditegaskan Menteri Sekteraris Kabinet, Pramono Anung Arab Saudi akan berinvestasi hanya 25 Milyar dolar AS.
          Menurut pengamat hubungan internasional Alex Jemadu, lawatan kenegaraan raja Salman kali ini menjadi momen penting baik bagi Arab maupun Indonesia. Di sektor perekonomian, Arab Saudi menilai pertemuan tersebut menjadi momen untuk memperluas kerja sama dengan Indonesia. Dengan kondisi harga minyak yang belum pasti dan menurun saat seperti sekarang, membuat Arab Saudi perlu melakukan diversifikasi ekonomi.  Dan Salah satu negara dengan potensi pasar yang besar dan secara kultural keagamaan sama dengan Arab yaitu Indonesia. Pertumbuhannya juga ketiga tertinggi di dunia. Maka dari  segi ekonomi, Indonesia dilihat penting bagi Arab untuk mengantisipasi turunnya harga minyak. (republika.co.id)
Sementara itu Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Agung menjelaskan bahwa pertemuan antar dua negara  akan membahas beberapa topik. Tiga di antara topik diskusi itu adalah penambahan kuota jemaah haji, peningkatan wisatawan Timur Tengah ke Indonesia, serta perlindungan warga negara Indonesia yang bermukim di Arab. Selain itu, sejumlah kerja sama akan dilakukan, di antaranya investasi Saudi Arabia melalui perusahaan tambang negara Saudi, Aramco, sebesar 6 miliar dolar AS.  Diharapkan, investasi Saudi Arabia secara keseluruhan mencapai 25 miliar dolar AS.
Memaknainya
          Saya sendiri memaknai kunjungan raja Salman sebagai pertama, sebuah kehormatan bagi Indonesia. Pasalnya, raja Salman selama ini jarang melakukan lawatan secara langsung. Sejak dilantik menjadi Raja pada tanggal 23 Januari 2015 pada usia yang ke 79 tahun,  raja Salman baru melalukan 1 kali kunjungan kenegaraan ke negara lain yakni Amerika Serikat, bertemu dengan Barak Obama. Lawatan ke luar negeri biasanya dilakukan oleh orang kepercayaanya seperti para menteri.
          Nampaknya, raja Salman sangat respect  terhadap Presiden Jokowi. Pidato Presiden Jokowi di forum APEC mendapat respon positif dari dunia internasional. Pidato Jokowi pada Pembukaan Konferensi Asia Afrika kembali mendapat applaus dunia internasional karena isinya lugas, tegas dan berani. Saking hebatnya Jokowi, Presiden kita ini masuk dalam daftar 100 tokoh paling berpengaruh di dunia tahun 2015.
          Kedua, menarik investasi dari semua negara, tak membedakan siapa pun. Presiden Jokowi berusaha keras menarik investor ke dalam negeri dengan sangat terbuka. Tak membedakan satu negara dengan negara lain. Selagi saling menguntungkan, Indonesia siap bekerja sama. Indonesia telah melakukan kerja sama dengan Cina, Tiongkok, Iran dan lainnya. Mereka dipandang sama. Indoensia tak membedakan. Hal ini  sekaligus menjawab  berbagai isu miring di dalam negeri.  Misalnya, saat mendekat ke Cina dan Tiongkok ada tuduhan Jokowi cenderung ke Komunis. Mendekat ke Iran, Jokowi dituduh Syiah. Apa sekarang Jokowi akan dituduh Wahabi? Sekali lagi, tidak. Indonesia memandang semua negara sama. Bukankah prinsip politik luar negeri kita adalah bebas aktif? Ke depan isu-isu tak produktif seperti itu tidak boleh ada lagi. Kita kudu fokus ke depan, membangun dengan melakukan kerja sama dengan dunia internasional.
          Ketiga, memerangi radikalisme dan terorisme. Ada anggapan miring, kedatangan raja Salman diartikan sebagai dukungan terhadap radikalisme. Ini jelas salah. Hal tersebut tak mungkin dilakukan. Seandainya dilakukanpun, Indonesia tak akan mendiamkan, berdiam diri.  Justru sebaliknya, Saudi sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh Indonesia dalam menangani terorisme dan radikalisme. Saudi mengapresiasi kinerja Densus 88 selama ini.
          Keempat, soal tenaga kerja dan kuota haji. Seperti diketahui, Arab Saudi negara tujuan utama TKI ke negera-negara Timur Tengah.  Tak mustahil, raja Salman akan meminta Indonesia mencabut moratorium pengiriman TKI yang diberlakukan sejak 2011 lalu. Ketika itu dilakukan, Indonesia dapat mengajukan syarat yang diinginkan. Bagaimanapun Arab Saudi sangat membutuhkan TKI. Demikian soal haji,   Indonesia layak mendapat perhatian khusus. Sebab, Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar yang paling banyak mengirim jamaah haji. Kuota haji Indonesia wajib ditambah. Kemudian  pembayaran ganti rugi korban Crane yang belum selesai sepantasnya diselesaikan. Rasanya, aneh jika kerajaan Saudi akan mengumbar kegelamoran di Bali  jika korban Crane belum terbayarkan.
          Akhir kata, kunjungan raja Salman layak diapresiasi. Lawatan kenegaraan tersebut  akan menguntungkan kedua bela pihak. Baik Indoensia maupun Arab Saudi sama-sama membutuhkan. Sepatutnya kedua negara besar muslim ini bersinergi dalam memakmurkan, mensejahterakan bumi. Wa Allahu alam.

Dimuat di Harian Radar Cirebon, Selasa 28 Februari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar